Translate

Saturday, July 14, 2012

Ujian Nasional Indonesia


Seperti yang kita ketahui saat ini, UN (Ujian Akhir Nasional) merupakan salah satu usaha pemerintah untuk meningkatkan taraf pendidikan bangsa. Hanya UN yang menjadi standar kelulusan, menjadi penentu lulus tidaknya seorang murid SD, SMP maupun SMA dan sederajatnya. Sistem kelulusan siswa adalah dengan pembagian hasil UN 60 persen ditambah ujian akhir sekolah (UAS) 40 persen. Jadi Nilai Akhir = 60 persen UN + 40 persen UAS. Tetapi apakah benar UN dapat berjalan sesuai tujuan?
Sering sekali dibertitakan pada saat-saat sebelum berlangsungnya UN bahwa pemerintah sangat ketat dalam menjaga keamanan soal UN agar tidak bocor. Terdapat tim yang dibentuk pemerintah yang sudah diterjunkan untuk mendatangi percetakan yang mengurusi soal UN ini. Tim memantau proses percetakan serta distribusi pengiriman ke seluruh wilayah di Indonesia. Tidak hanya itu, tim juga mendatangi gudang-gudang penyimpanan soal. Tim meninjau proses pengamanan soal-soal itu. Termasuk soal pengepakan, apakah soal mengalami kerusakan atau tidak. Bahkan, Irjen Kemendikbud Haryono Umar pernah menjamin seluruh proses yang ada, hingga proses pengumuman, tidak akan luput dari pemantauan pihaknya. Ujian nasional untuk tingkat SMA/SMK digelar serentak. Begitu juga di Bali, antisipasi kebocoran naskah UN di Bali dijaga tentara. Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat Prof. Wahyudin Zarkasyi pun mengaku tidak khawatir meski soal menginap lebih lama di daerah. Sebab menurut dia, seluruh petugas, pengawas, dan panitia pelaksana UN memiliki integritas yang tinggi. Di Kaltim, lembar soal dan jawaban ditempatkan di ruang khusus yang terkunci dengan tiga gembok. Kunci gembok masing-masing dipegang personil polisi yang bertugas, Pengawas dari Unmul dan Kepala Sekolah.
Kunci Jawaban menyebar cepat lewat pesan singkat
Sangat ketat sekali memang semua usaha penjagaan oleh pemerintah, polisi dan tentara. Seperti tidak ada satupun celah bagi semua orang yang hendak bertindak curang, mengambil untung dari hal terlarang. Dapat dilihat mulai dari percetakan sampai pada pendistribusian lalu menginapnya naskah soal UN di masing-masing daerah semua telah terjaga sangat rapi dan ketat. Namun, benar-benar sangat disayangkan mengapa setelah UN berlangsung hampir semua berita di televisi, koran dan sebagainya berbalik 180 derajat dari berita sebelumnya. Setelah sebelumnya, diberitakan betapa ketatnya penjagaan dan pengamanan kebocoran naskah soal UN, beritapun berganti dengan murid-murid yang tertangkap kamera sedang berbuat curang dengan berbagai cara. Cara-cara yang paling populer dilakukan murid adalah mengoperasikan handphone, membawa kunci jawaban yang nyaris lengkap mulai nomer awal sampai nomer terakhir dan saling beri jawaban antar murid. Sebenarnya semua hal itu adalah perbuatan yang benar-benar dilarang, sebenarnya handphone diwajibkan untuk tidak dimasukkan dalam ruang ujian, mengobrol juga tidak boleh yang padahal terdapat 2 pengawas ujian dalam setiap ruangan.
Dari tiga kasus yang paling sering ditemui tersebut yang paling sangat patut dipertanyakan adalah darimana murid mendapatkan kunci jawaban berbentuk sebuah kertas kecil ataupun pesan di handphone, padahal naskah soal UN sudah dijaga sedemikian ketat. Bukan hanya itu saja, hal yang juga sangat disayangkan adalah kepercayaan diri sebagian besar murid di Indonesia yang benar-benar tidak ada dengan kemampuan yang dia miliki. Padahal sistem UN sendiri sudah sangat membuka jalan yang lebar bagi murid untuk lulus sekolah dengan sistem, Nilai Akhir = 60 persen UN + 40 persen UAS.
Pembicaraan saya dengan beberapa teman dari berbagai daerah di Indonesia ketika saya sedang belajar Bahasa Inggris di Pare, Kediri pun juga membuktikan bahwa setelah saya menanyakan kepada anak Bekasi yang baru saja lulus SMP apakah kamu mendapatkan bocoran jawaban, dia hanya tersenyum dan menjawab “ya iyalah... pasti...”. Itu hanya satu dari beberapa anak yang saya tanyakan, belum banyak lagi yang lain.
Saya lulus SMA pada tahun 2011, masih teringat betul di memori saya kejadian-kejadian yang sebenarnya kurang berkenan di hati saya tentang berlangsungnya, diantaranya:
·         Harga kunci jawaban UN sangatlah murah dibandingkan dengan biaya sekolah di sekolah yang tidak favorit sama sekali. Bahkan, sempat diberitakan berbagai harga kunci jawaban yang bervarisasi, hanya dengan Rp 70.000, Rp 50.000 dan hanya Rp 10.000, karena sebagian besar pembayarannya dilakukan dengan iuran untuk membeli kunci jawaban. Benar-benar murah bahkan untuk seorang pengangguran.
·         Di samping itu didukung oleh kemajuan teknologi informasi lewat handphone dan internet. Sangat cepat menyebar semua kunci jawaban dari semua kode naskah soal A-E.
·         Pada setiap pagi hari, sebelum murid memasuki lingkungan sekolah biasanya penjual kunci jawaban akan bertemu dengan beberapa murid saja di tempat yang telah disepakati. Sebelum ujian, murid dipersilahkan untuk ke kamar kecila agar tidak ada lagi yang meninggalkan ruang ujian sebelum ujian usai, yang memang dilarang. Di saat itulah saat yang paling mudah bagi murid-murid untuk menyalin semua jawaban soal yang akan mereka terima pada selembar kertas kecil. Murid yang dirasa pintar dalam mata pelajaran yang akan berlangsung akan menjadi penanda bahwa kunci itu benar atau tidak. Jadi, setelah anak itu mengerjakan semua soal dia akan memberi tanda bahwa jawaban yang telah mereka salin itu benar dan yang lain akan memulai mengisi jawaban.
·         Beberapa murid yang sebernarnya tidak terlalu pintar dalam salah satu mata pelajaran pun mendapatkan nilai yang nyaris tidak dapat dipercaya kalau dilihat dari nilai-nilai sekolah sebelumnya dan kondisi mereka saat dikelas.
·         Sistem Nilai Akhir = 60 persen UN + 40 persen UAS ini benar-benar dimanfaatkan oleh sebagian besar sekolah di Indonesia. Semua mata pelajaran yang masuk di UN dijadikan minimal 8,0 dengan memberikan tugas-tugas yang cukup mudah untuk dikerjakan. Dengan nilai rapot 8,0 ini sebenarnya murid tidak perlu bersusah payah kalau hanya untuk lulus, nilai UN 3,0 pun sebenarnya bukan menjadi masalah yang besar. Disinilah terlihat jelas bahwa sebagian murid tak memiliki kepercayaan diri sama sekali dengan tetap membeli kunci jawaban.
Kunci Jawaban yang sudah dicatat sebelum memasuki ruang ujian
·         Ada sebuah informasi dari seorang karyawan di SMA saya bahwa rapot yang telah dikirim ke Diknas masih bisa diganti lagi nilai. Dan itu dapat mengubah hasil akhir.
Memang tidak salah orang didalam sekolah ingin memberikan yang murid inginkan tetapi apakah benar itu yang terbaik demi murid. Tapi tentu masih tetap patut untuk dipertanyakan kebenaran sekolah yang memberikan nilai minimal 8,0 dengan harapan menjadikan murid sebagai SDM berkualitas Indonesia.
Sangat disayangkan memang fenomena ini, disaat banyak orang-orang yang sudah dengan hati yang besar dan jujur membantu agar UN berjalan dengan seharusnya. Tetapi, hanya dengan beberapa pihak yang ingin mendapatkan keinginan dengan cara tak halal pun terjadilah kebocoran kunci jawaban UN ini. Dan yang pasti orang yang mendalangi bocornya kunci jawaban adalah bukan orang sembarangan melainkan orang yang berpangkat tinggi kalau dilihat dari tidak pernah ditemukannya dalang semua ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa di jaman teknologi informasi yang maju ini hanya dengan satu tempat saja yang bocor misalkan, di Merauke Papua bocor bukan tidak mungkin orang yang di Sabang mendapatkan kunci jawaban yang berasal dari Merauke. Hanya dengan satu pesan di handphone berisikan kunci jawaban lengkap akan dapat menjadi lumbung bisnis haram yang memang sangat menggiurkan.
Mohon maaf sebelumnya atas uneg-uneg saya
MAJULAH INDONESIA

No comments:

Post a Comment