Translate

Tuesday, October 30, 2012

The Causes of Robbery


The Causes of Robbery

Robbery is a crime of stealing money or goods from a bank, shop, etc. Mostly, robbery cases are using violence. The victims of robbery usually want to defend themselves but they do not have any preparation or ability to do it. It makes the victims get hurts or injuries even in some cases the victims were dead. Usually, economical factors and bad environment are the causes of robbery.

Indonesia which has so many poor people often faces robbery cases. Robbers are usually poor people. Most of suspect of robbery give the police reason that they are poor and have no choice but to rob. Many robbers are jobless, they cannot make money to buy foods and other primary needs. Their poverty forces them to choose the easiest way, robbing.
Environment is a place where attitude of someone formed. Especially, family as the first environment is the base that determine someone’s attitude. Attitude also depends on the school or society. When someone grows in a broken-home and lives in a bad society, it is almost certain he would be a bad guy and hard to seek a job. He would think that the easiest way to make money is by stealing money or property from a person or shop.
Robbery is not only the problem of government but also society’s problem. Government and society have to work together, government has to punish the robbers seriously while society helps each other to survive and keep the better attitude. Government has to remove jobless or poverty soon. If poverty is no longer exist and the people have good attitude automatically the number of robbery cases will be decreased rapidly.

Saturday, August 4, 2012

Fakta Keunggulan China

اُطْلُبُوْا العِلْمَ وَلَوْ في الصِّينِ

"Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China"

saya bingung kenapa ilmu harus dituntut? memangnya ilmu salah apa?..
Hehe.. bercanda..

Hadits diatas merupakan hadits yang banyak ulama mengatakan hadits itu dhoif berdasar pada perawi-perawinya. Tetapi saya tidak akan membahas tentang hal tersebut pada post ini. Saya adalah salah satu orang yang dari dulu mengagumi negara China entah mengapa demikian mungkin juga karena terhasut oleh hadits tersebut tetapi saya tidak tahu.

Tetapi menurut saya memang China adalah salah satu negara terkuat di segala aspek. Entah apa kategori hadits tersebut, saya anggap saja ini sebagai sebuah peribahasa.

Diperkirakan pada 2017 Anggaran Pertahanan China mencapai 175 Milyar Dolar
Faktanya banyak sekali yang menunjukkan bahwa China memang benar-benar layak menjadi tempat untuk belajar dan atau berlatih. Diantaranya: 
  • (kepandaian) China sudah mengenal tulisan sejak kurang lebih 1500 SM dan membuat kuas pada 210 SM dan negara penemu kertas yang sangat berguna yang tidak bisa dibayangkan kalau saja tidak ada kertas di dunia ini, pada abad pertama masehi.
  • (kimia) China juga merupakan negara yang menemukan mesiu yang merupakan bakal dari senjata-senjata masa kini yang sebelumnya disaat di daerah-daerah lain masih lebih tradisional, di dalam China sudah menggunakan api dan perkiraan cuaca dalam berbagai peperangan.
  • Ilmu pengobatan China termasuk yang tertua yang masih dipakai sampai sekarang dan tetap ampuh dan beberapanya mengungguli obat-obatan zaman sekarang. Salah satunya yang paling terkenal adalah akupuntur, Berdasarkan ahli sejarah Tionghoa Sima Qian; mereka telah menemukan bukti, bahwa akupunktur sudah dikenal sejak 5.000 tahun.
  • China masuk pada 3 besar negara dengan kekuatan militer terbaik.
  • Di China juga memiliki budaya mencari ilmu yang tinggi, lihat saja anak SD pun sekolah mulai dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore.
  • China merupakan raksasa ekonomi kedua dunia, pada Maret 2012 China menurunkan target pertumbuhan 2012 menjadi 7,5 persen untuk mengantisipasi pelambatan ekonomi global meski Bank Dunia memperkirakan ekonomi negara itu bisa tumbuh 8,0 persen. Penurunan target pertumbuhan itu mengindikasikan bahwa China telah mencapai fase nyaman dan realistis. 
  • Disini menunjukkan 10 alasan China merupakan negara yang unggul.
  • Disini memperkirakan perbandingan antara China dan AS pada 2040.
Belum lagi China merupakan negara yang mempunyai komitmen tinggi dalam pertumbuhan dan kemajuan. Dapat dilihat salah satunya dari catatan olimpiade yang dari olimpiade ke olimpiade China semakin membaik dan akhirnya dapat dilihat pada Olimpiade Athena 2004 China menjadi Runner-Up dan menjadi juara umum pada saat menjadi tuan rumah Olimpiade Beijing 2008, dan saat ini (3/8/12 12:52) China mengungguli perolehan medali. kebanyakan orang China memiliki postur sama baiknya dengan orang Eropa tetapi tetap lentur badan mereka seperti halnya orang Asia.
All China Final di cabang Tenis Meja di Olimpiade London 2012
di kategori Tunggal Putra dan Tunggal Putri
Dan hal yang benar-benar membuat saya kagum adalah bagaimana negara ini memberikan sanksi yang keras dan tegas serta jelas pada pelanggaran-pelanggaran. Faktanya adalah negara ini merupakan negara yang paling banyak mengeksekusi mati apalagi terhadap koruptor-koruptor di negaranya, langsung di eksekusi mati. Dan bisa kita lihat hasilnya China adalah negara sejahtera sekarang ini.
Tidak seperti di Indonesia banyak sekali pelaku KKN tang tidak ditindak. Dan yang sangat disayangkan adalah hal itu sudah membudaya. Bisa dibayangkan betapa cepat pertumbuhan negara ini karena bagusnya fasilitas-fasiitas umum di negara ini berkat tak ada lagi KKN dan mengedepankan kepentingan bersama. Kapan pemerintah Indonesia akan menjadi seperti pemerintahan China?
Dari artikel Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri China — Muslim.Or.Id by null“Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China.”

Saturday, July 28, 2012

Big Bang dan Al Qur'an

"Kami akan Memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar..." (QS Fushilat [41]:53).
Gambar dari managedspeed.com

Proses kelahiran alam semesta telah dimulai sejak sekitar 18 miliar tahun yang lalu, sebelum terjadinya Big Bang. Big Bang terjadi pada sekitar 13,7 miliar tahun yang lalu.
"Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu keduanya adalah suatu yang padu, kemudian Kami Pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami Jadikan segala sesuatu yang hidup. maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (QS Al Anbiya [21]:30)
Peristiwa Big Bang telah dijelaskan sebelumnya dengan kata-kata yang sederhana lagi indah oleh Allah SWT.
Selanjutnya, Al Qur'an juga telah mendahului penemuan 3 ahli kosmologi, Georges Lemaître, George Gamow, Stephen Hawking yang menemukan bahwa atom yang terbentuk sejak peristiwa Big Bang adalah Hidrogen (H) dan Helium(He), dan air terdiri dari Hidrogen dan Oksigen (H2O).

Stephen Hawking dalam A Brief History of Time (1980) mengatakan bahwa penemuan bukti mengembangangnya alam semesta merupakan salah satu revolusi terbesar dalam ilmu pengetahuan abad ke-20.
"Dan langit itu Kami Bangun dengan Kekuasaan (kami) dan sesungguhnya kami benar-benar meluaskan (mengembangkan)nya" (QS Al Dzariyat [51]:47)
Telah disebutkan sebelumnya dalam Al Qur'an bahwa langit memang meluas dan atau mengembang.

Ahli-ahli astronomi mengenali empat model grafik alam semesta di masa yang akan datang, yaitu accelerating expansion, open universe, flat universe dan closed universe. Closed universe menjelaskan bahwa suatu saat alam semesta akan mengerut. Suatu saat nanti akan terjadi Big Crunch, yaitu tabrakan seluruh isi alam semesta dan tersedot kembali oleh gravitasi awal pembentukannya.
Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya"(yaitu) pada hari Kami Gulung langit sebagaimana mengglung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah Memulai penciptaan pertama behitulah Kami akan Mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami Tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan Melaksanakannya" (QS Al Anbiya [21]:104)
Allah berfirman  "...akan Mengulanginya...", dengan diksi yang tepat Allah SWT berfirman, Big Crunch sendiri merupakan kebalikan dari Big Bang. Big Crunch merupakan janji Allah yang pasti akan Ditepati. Hampir bisa dipastikan itulah Kiamat Kubra.

"Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat. dan terbelahlah langit, karena hari itu langit menjadi lemah(QS Al Haqqah [69]:15-16)
Mengapa langit pada hari itu lemah adalah karena suatu saat energi percepatan dan mengembangnya alam semesta akan seimbang dengan gaya tariknya yang kemudian akan tertarik kembali pada titik awalnya.

Di dunia ini banyak sekali terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berpikir, orang yang mengerti dan orang yang beryukur. Hanya saja sebagian besar manusia tidak mau berpikir atau mencoba memahami atau bersyukur. Maha Besar dan Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Tidak ada Tuhan selain Allah SWT.
Gambar dari a7.sphotos.ak.fbcdn.net


sumber: buku "Menyibak Rahasia Sains Bumi dalam Al-Qur'an" oleh Ir. Agus Haryo Sudarmojo

Thursday, July 26, 2012

Berkah Shubuh

Sholat Shubuh itu memang benar-benar susah untuk dilakukan bagi yang belum terbiasa tetapi apa iya kita kalah dengan Emprit (burung gereja) yang pagi-pagi sekali sudah bangun mencari nafkah sambil bersiul-siul indah bak juara Indonesian Idol


Ketika seseorang melangkahkan kakinya ke masjid Subhanallah, selangkah dosanya dihapus, selangkah lagi mendapat pahala.

Bukan hanya itu ketika memasuki Masjid lalu Sholat Qobliyah Shubuh yang merupakan Sholat Sunnah yang paling dipentingkan oleh Rasullah karena hanya dua raka'at akan lebih baik dari bumi seisinya. (tetapi ada yang berpendapat Qobliyah Shubuh disunnahkan dirumah). Kalau anda punya mimpi ingin memiliki perusahaan minyak Arab atau apapun itu (di dunia) kita bisa memilikinya sehari bertambah satu dengan Sholat Qobliyah Shubuh.

Dan Sholat Shubuh sendiri luar biasa, hanya Sholat Shubuh kita dapat Sholat bersama para Malaikat Allah. Ada hadits kurang lebih begini "Jika seseorang itu mengetahui pahala Sholat Shubuh berjama'ah di masjid pasti orang tersebut akan rela berangkat walaupun harus dengan merangkak". Ini hadits kan zaman dulu nih (walaupun untuk sepanjang masa), di Arab lagi pastinya gak ada lampu. So, gelap gulita merangkak di dinginnya padang pasir.. apalagi masjid zaman dulu pasti gak sebanyak zaman sekarang jadi pasti jauh banget masjidnya.
Kalau yang sunnah saja lebih baik dari bumi seisinya apa lagi yang wajib. Hehe...

Serta Sholat Shubuh menjadi sebuah hal yang dapat menjadi tolak ukur jika ingin Islam berjaya, ketika Sholat Shubuh umat Islam berjumlah jama'ah sama dengan Sholat Jum'at dapat dipastikan Islam akan jaya kembali seperti pada zaman Rasul.
Ayo bangun shubuh ke masjid berjama'ah... 

Monday, July 16, 2012

Jangan Pakai Tusuk Gigi

"Kalau membersihkan gigi jangan pakai tusuk gigi", Itulah kata-kata dari dokter gigi di Puskesmas deket rumah, yang benar-benar saya baru pahami mengapa.

Saya sering kali merasakan ada sisa makanan yang nyangkut waktu mengunyah, selidik punya selidik, gigi saya mulai keropos (mau jadi lobang). Setelah saya capek harus ngebersihin terus-terusan akhirnya saya pergi ke puskesmas dekat rumah.
Waktu diperiksa sama bu dokter... echh malah katanya "masak baru segini aja udah sakit". Didalam hati ku bilang "gimana sih nih dokter katanya harus cepet tanggap" -_-.
Terus bu dokternya ngambil alatnya, gigiku yang bawah diketok-ketok, "sakit?" katanya.
"nggak" kataku.
echh ngetoknya makin keras dan makin keras. "damn, sakit dok!" batinku.
Aku paksain tutup mulut kok malah katanya "masak gitu aja sakit?" katanya.
Aku diam saja, "loh gimana sih nih orang ini gigiku sendiri kok situ yang ngotot.." dihatiku.
Pas mau keluar dipesenin sama dokternya "kalau bersihkan gigi jangan pakai sikat gigi, pakai benang gigi di apotek ada".
Aku jawab "iya dok". Gak ku pikir sama sekali pesen itu.

Setelah beberapa minggu kemudian, saya pakai tusuk gigi seperti biasa. Ada daging ayam yang nyangkut di gigi. Emang agak dalam nyangkutnya jadi agak maksa, "kratak"... wuaaaaaa..  gigiku cuil... (sedih seharian memikirkan penyesalan bikin gigi cuil)

Saturday, July 14, 2012

Good Learners in SLA Nina

Characteristic of Good Learners (Nina Spada)

Nina Spada

1.          Age of Acquisition

Many adult second language learning become capable of communicating very successfully in the language but, for most, differences of accent, word choice, or grammatical features distinguish them from native speakers and from second language speakers who began learning the language while they were very young.
There was study say that there is a “critical period for second language acquisition”. Critical Period Hypothesis suggests that there is a time in human developments when the brain is predisposed for success in language learning. Language learning which occurs after the end of critical period may not be based on the innate biological structures believed to contribute to first language acquisition or second language acquisition in early childhood. Rather, older learners depend on more general learning abilities.
Younger learners in informal language learning environments usually have more time to devote to learning language, more opportunities to hear and use the language. Older learners often in situations which demand much more complex language and the expression of much more complicated ideas. And that situations often make them frustated to say what they mean in the second language.
Older learners almost inevitably have a noticeable “foreign accent”. Mark Patkowski hypothesized, even if accent were ignored, only those who had begun learning their second language before the age of 15 could ever achieve full, native-like mastery of that language.
Older learner would learn more effective but younger learner has more time to learn from childhood until old.

2.      Intelligence

Over the years, many studies using a variety of intelligence (IQ) tests and different methods of assessing language learning have found that IQ scores were a good means of predicting how successful a learner would be. Some recent studies have a conclusion, say that this characteristic is more strongly than to others.
A study found that, while intelligence was related to the development of French second language reading, grammar and vocabulary, it was unrelated to oral productive skills.
Intelligence is complex and individuals have many kinds of abilities and strengths. Many students whose academic performance has been weak have experienced considerable success in second language learning.

3.      Motivation and Attitude

The overall findings show that positive attitudes and motivation are related to success in second language learning. Motivation can be defined in terms of two factors:
-          Learners communicative needs, if learners need to speak the second language in a wide range of social situations or to fulfil professional ambitions, they will perceive the communicative value of the second language and will therefore be motivated to acquire proficiency.
-          Learners attitudes towards the second language community, if learners have favourable attitudes towards the speakers of language, they will desire more contact with them.
Other opinion from Robert Gardner and Wallace Lambert :
-          Integrative motivation to refer to language learning for personal growth and cultural enrichment.
-          Instrumental motivation for language learning for more immediate or practical goals.

4.      Personality

It is often argued that an extroverted person is well suited to language learning. However, research does not always support this conclusion. Although some studies have found that success in second language learning is correlated with extroversion such as assertiveness and adventurousness, others have found that many successful language learners do not get high scores on measures of extroversion.
Many researchers believe that personality will be shown to have an important influence on success in language learning.

5.      Aptitude

Learning is distinguishing feature of aptitude. There are two tests for aptitude that usually used by many people, MLAT and PLAB, both tests are based on the view that aptitude is composed of different types of abilities:
-          The ability to identify and memorize new sounds
-          The ability to understand the particular words in sentences
-          The ability to figure out grammatical rules from language
-          Memory for new words
One could determine learner’s profile of strengths and weaknesses and use this information to place students in appropriate teaching programs. Some evidence incated that matched students were able to attain significantly higher level of achievement than those who were unmatched.

6.      Learners Preferences

Visual learners usually cannot learn something until they have seen it. Aural learners, seem to need only to hear something once or twice before they know it. Kinasesthetic learners, there is a need to add a physical action to the learning process.
The result of a research is that while field independence is related to some degree to performance on certain kinds of tasks, it is not good predictor of performance on others.

7.      Learner Beliefs

Out there, so many beliefs in many learners that involves a learner in their process of learning. In particular, older learners have strong beliefs and opinions about how their instruction should be delivered. These beliefs are usually based on previous learning experiences and the assumption that a particular type of instruction is the best way for them to learn.
A research indicates that learner beliefs can be strong mediating factors in their experience in the classroom. Several students were convinced that their progress was negatively affected by an instructional approach which was not consistent with their beliefs about the best way for them to learn. This characteristic will influence the kinds of strategies they choose in order to learn new material.

Good Learners in SLA Muriel

Characteristic of Good Learners ( Muriel Saville )

Muriel Saville

1.     Age

In this Age characteristic, younger learner is not better than an older learner.

Age differences in SLA

Younger advantage 
  1. Brain Plasticity
  2. Not analytical
  3. Fewer inhibitions (usually)
  4. Weaker group identity
  5. Simplified input more likely
      Older advantage
  1. Learning Capacity
  2. Analytic ability
  3. Pragmatic skills
  4. Greater knowledge of L1
  5. Real-world knowledge 
Based on that table we know that there is no better one from both of them. But we could understand that younger learner has more time than older learner to acquire the second language and when the younger learner has the advantage like an older learner, he has had more ability than older learner. So, I think learners that start to learn.

2.     Cognitive Style

Cognitive Style refers to individuals preferred way of processing. Its role in explaining why someone could not be successful in learning L2, by observes some styles. 
Field-dependent (FD) ; introvert
  1. Global
  2. Holistic
  3. Deductive
  4. Focus on meaning 
Field-independent (FI) ; extrovert
  1. Particular
  2. Analytic
  3. Inductive
  4. Focus on form 
 
In a test (find a simple shape within a more complex design), Individuals who have difficulty discerning a figure apart from the ground (or field) within which it is embedded are judged to be relatively FD; individuals who have no difficulty with this test are judged FI.
Individuals who are FD are also considered more global and holistic in processing new information; individuals who are FI are considered more particularistic and analytic.
Deductive processing begins with a prediction or rule and then applies it to interpret particular instances input. Inductive processing begins with examining input to discover some pattern and then formulates a generalization or rule that accounts for it and that may then in turn be applied deductively.
In a study, a cognitive style whereby subjects are able to focus on form perhaps better than meaning (but certainly in conjunction with meaning).
FD learners are thought to achieve more success in L2 acquisition via highly contextualized interactive  communicative experiences because that fits better with their holistic “cognitive style” and FI learners to profit more from decontextualized analytic approaches and formal instruction.

3.      Motivation

Integrative:
Based on interest in learning L2 because of desire, such as:
-          Desire to attain the goal
-          Intention to integrate in a community
-          Emotional or affective factors
Instrumental:
Involves perception of purely practical value in learning the L2, such as:
-          Increasing occupational
-          Enhancing prestige and power
-          Accessing scientific and technical information
-          Passing course in school

4.     Personality

Personality factors are sometimes added to cognitive style in characterizing more general learning style.
Personality traits
The First Type
  1. Anxious
  2. Risk-avoiding
  3. Shy
  4. Introverted
  5. Inner-directed
  6. Reflective
  7. Imaginative*
  8. Creative
  9. Empathetic*
  10. Tolerant of ambiguity*
* indicates positive correlation with success in L2 learning

 The Second Type
  1. Self confident*
  2. Risk-taking*
  3. Adventuresome*
  4. Extroverted
  5. Other-directed
  6. Impulsive
  7. Uninquisitive
  8. Uncreative
  9. Insensitive to others
  10. Closure-oriented
* indicates positive correlation with success in L2 learning

 Introverts generally do better in school and extroverts talk more. Some researchers have hypothesized that extroverts would be more successful language learners.

5.     Aptitude

Phonemic coding is the capacity to process auditory input into segments which can be stored and retrieved. It is particularly important at very early stages learning when the ability of the hearer cannot analyze the incoming stream if speech into phonemes in order to recognizes morphemes. Input may not result in intake.
Inductive language learning ability and grammatical sensitivity account for further processing of the segmented auditory input by the brain to infer structure, identify patterns, make generalizations, recognize the grammatical function of elements and formulate rules.
Associative memory capacity is importantly concerned with how linguistic items are stored and with how they are recalled and used in output. Associative memory capacity determines appropriate selection from among L2 elements that are stored and ultimately determines speaker fluency.

6.         Learning Strategies

Learning strategies is the behaviors and techniques they adopt in their efforts to learn a second language. Not all strategies are equal, some more inherently more effective than others and some more appropriate in particular contexts of learning styles.
Metacognitive strategies are those which attempt to regulate language learning by planning a monitoring. E.g. previewing a concept in anticipation of a learning activity.
Cognitive strategies make use of direct analysis or synthesis of linguistic material. E.g. repeating after a language model.
Social/affective strategies involve interaction with others. E.g. seeking opportunities to interact with native speakers.

7.         Sex

  1. there is belief female tend to be better L2 learner than male
  2. Female outperform men in verbal fluency
  3. Female may be less asymmetrically organized than male, but male better at computing compositional rules than female
  4. Female better at memorizing complex form than male
  5. During menstruation, female has higher level at articulatory and motor ability have been associated