Translate

Saturday, July 28, 2012

Big Bang dan Al Qur'an

"Kami akan Memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar..." (QS Fushilat [41]:53).
Gambar dari managedspeed.com

Proses kelahiran alam semesta telah dimulai sejak sekitar 18 miliar tahun yang lalu, sebelum terjadinya Big Bang. Big Bang terjadi pada sekitar 13,7 miliar tahun yang lalu.
"Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu keduanya adalah suatu yang padu, kemudian Kami Pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami Jadikan segala sesuatu yang hidup. maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (QS Al Anbiya [21]:30)
Peristiwa Big Bang telah dijelaskan sebelumnya dengan kata-kata yang sederhana lagi indah oleh Allah SWT.
Selanjutnya, Al Qur'an juga telah mendahului penemuan 3 ahli kosmologi, Georges LemaƮtre, George Gamow, Stephen Hawking yang menemukan bahwa atom yang terbentuk sejak peristiwa Big Bang adalah Hidrogen (H) dan Helium(He), dan air terdiri dari Hidrogen dan Oksigen (H2O).

Stephen Hawking dalam A Brief History of Time (1980) mengatakan bahwa penemuan bukti mengembangangnya alam semesta merupakan salah satu revolusi terbesar dalam ilmu pengetahuan abad ke-20.
"Dan langit itu Kami Bangun dengan Kekuasaan (kami) dan sesungguhnya kami benar-benar meluaskan (mengembangkan)nya" (QS Al Dzariyat [51]:47)
Telah disebutkan sebelumnya dalam Al Qur'an bahwa langit memang meluas dan atau mengembang.

Ahli-ahli astronomi mengenali empat model grafik alam semesta di masa yang akan datang, yaitu accelerating expansion, open universe, flat universe dan closed universe. Closed universe menjelaskan bahwa suatu saat alam semesta akan mengerut. Suatu saat nanti akan terjadi Big Crunch, yaitu tabrakan seluruh isi alam semesta dan tersedot kembali oleh gravitasi awal pembentukannya.
Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya"(yaitu) pada hari Kami Gulung langit sebagaimana mengglung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah Memulai penciptaan pertama behitulah Kami akan Mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami Tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan Melaksanakannya" (QS Al Anbiya [21]:104)
Allah berfirman  "...akan Mengulanginya...", dengan diksi yang tepat Allah SWT berfirman, Big Crunch sendiri merupakan kebalikan dari Big Bang. Big Crunch merupakan janji Allah yang pasti akan Ditepati. Hampir bisa dipastikan itulah Kiamat Kubra.

"Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat. dan terbelahlah langit, karena hari itu langit menjadi lemah(QS Al Haqqah [69]:15-16)
Mengapa langit pada hari itu lemah adalah karena suatu saat energi percepatan dan mengembangnya alam semesta akan seimbang dengan gaya tariknya yang kemudian akan tertarik kembali pada titik awalnya.

Di dunia ini banyak sekali terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berpikir, orang yang mengerti dan orang yang beryukur. Hanya saja sebagian besar manusia tidak mau berpikir atau mencoba memahami atau bersyukur. Maha Besar dan Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Tidak ada Tuhan selain Allah SWT.
Gambar dari a7.sphotos.ak.fbcdn.net


sumber: buku "Menyibak Rahasia Sains Bumi dalam Al-Qur'an" oleh Ir. Agus Haryo Sudarmojo

Thursday, July 26, 2012

Berkah Shubuh

Sholat Shubuh itu memang benar-benar susah untuk dilakukan bagi yang belum terbiasa tetapi apa iya kita kalah dengan Emprit (burung gereja) yang pagi-pagi sekali sudah bangun mencari nafkah sambil bersiul-siul indah bak juara Indonesian Idol


Ketika seseorang melangkahkan kakinya ke masjid Subhanallah, selangkah dosanya dihapus, selangkah lagi mendapat pahala.

Bukan hanya itu ketika memasuki Masjid lalu Sholat Qobliyah Shubuh yang merupakan Sholat Sunnah yang paling dipentingkan oleh Rasullah karena hanya dua raka'at akan lebih baik dari bumi seisinya. (tetapi ada yang berpendapat Qobliyah Shubuh disunnahkan dirumah). Kalau anda punya mimpi ingin memiliki perusahaan minyak Arab atau apapun itu (di dunia) kita bisa memilikinya sehari bertambah satu dengan Sholat Qobliyah Shubuh.

Dan Sholat Shubuh sendiri luar biasa, hanya Sholat Shubuh kita dapat Sholat bersama para Malaikat Allah. Ada hadits kurang lebih begini "Jika seseorang itu mengetahui pahala Sholat Shubuh berjama'ah di masjid pasti orang tersebut akan rela berangkat walaupun harus dengan merangkak". Ini hadits kan zaman dulu nih (walaupun untuk sepanjang masa), di Arab lagi pastinya gak ada lampu. So, gelap gulita merangkak di dinginnya padang pasir.. apalagi masjid zaman dulu pasti gak sebanyak zaman sekarang jadi pasti jauh banget masjidnya.
Kalau yang sunnah saja lebih baik dari bumi seisinya apa lagi yang wajib. Hehe...

Serta Sholat Shubuh menjadi sebuah hal yang dapat menjadi tolak ukur jika ingin Islam berjaya, ketika Sholat Shubuh umat Islam berjumlah jama'ah sama dengan Sholat Jum'at dapat dipastikan Islam akan jaya kembali seperti pada zaman Rasul.
Ayo bangun shubuh ke masjid berjama'ah... 

Monday, July 16, 2012

Jangan Pakai Tusuk Gigi

"Kalau membersihkan gigi jangan pakai tusuk gigi", Itulah kata-kata dari dokter gigi di Puskesmas deket rumah, yang benar-benar saya baru pahami mengapa.

Saya sering kali merasakan ada sisa makanan yang nyangkut waktu mengunyah, selidik punya selidik, gigi saya mulai keropos (mau jadi lobang). Setelah saya capek harus ngebersihin terus-terusan akhirnya saya pergi ke puskesmas dekat rumah.
Waktu diperiksa sama bu dokter... echh malah katanya "masak baru segini aja udah sakit". Didalam hati ku bilang "gimana sih nih dokter katanya harus cepet tanggap" -_-.
Terus bu dokternya ngambil alatnya, gigiku yang bawah diketok-ketok, "sakit?" katanya.
"nggak" kataku.
echh ngetoknya makin keras dan makin keras. "damn, sakit dok!" batinku.
Aku paksain tutup mulut kok malah katanya "masak gitu aja sakit?" katanya.
Aku diam saja, "loh gimana sih nih orang ini gigiku sendiri kok situ yang ngotot.." dihatiku.
Pas mau keluar dipesenin sama dokternya "kalau bersihkan gigi jangan pakai sikat gigi, pakai benang gigi di apotek ada".
Aku jawab "iya dok". Gak ku pikir sama sekali pesen itu.

Setelah beberapa minggu kemudian, saya pakai tusuk gigi seperti biasa. Ada daging ayam yang nyangkut di gigi. Emang agak dalam nyangkutnya jadi agak maksa, "kratak"... wuaaaaaa..  gigiku cuil... (sedih seharian memikirkan penyesalan bikin gigi cuil)

Saturday, July 14, 2012

Good Learners in SLA Nina

Characteristic of Good Learners (Nina Spada)

Nina Spada

1.          Age of Acquisition

Many adult second language learning become capable of communicating very successfully in the language but, for most, differences of accent, word choice, or grammatical features distinguish them from native speakers and from second language speakers who began learning the language while they were very young.
There was study say that there is a “critical period for second language acquisition”. Critical Period Hypothesis suggests that there is a time in human developments when the brain is predisposed for success in language learning. Language learning which occurs after the end of critical period may not be based on the innate biological structures believed to contribute to first language acquisition or second language acquisition in early childhood. Rather, older learners depend on more general learning abilities.
Younger learners in informal language learning environments usually have more time to devote to learning language, more opportunities to hear and use the language. Older learners often in situations which demand much more complex language and the expression of much more complicated ideas. And that situations often make them frustated to say what they mean in the second language.
Older learners almost inevitably have a noticeable “foreign accent”. Mark Patkowski hypothesized, even if accent were ignored, only those who had begun learning their second language before the age of 15 could ever achieve full, native-like mastery of that language.
Older learner would learn more effective but younger learner has more time to learn from childhood until old.

2.      Intelligence

Over the years, many studies using a variety of intelligence (IQ) tests and different methods of assessing language learning have found that IQ scores were a good means of predicting how successful a learner would be. Some recent studies have a conclusion, say that this characteristic is more strongly than to others.
A study found that, while intelligence was related to the development of French second language reading, grammar and vocabulary, it was unrelated to oral productive skills.
Intelligence is complex and individuals have many kinds of abilities and strengths. Many students whose academic performance has been weak have experienced considerable success in second language learning.

3.      Motivation and Attitude

The overall findings show that positive attitudes and motivation are related to success in second language learning. Motivation can be defined in terms of two factors:
-          Learners communicative needs, if learners need to speak the second language in a wide range of social situations or to fulfil professional ambitions, they will perceive the communicative value of the second language and will therefore be motivated to acquire proficiency.
-          Learners attitudes towards the second language community, if learners have favourable attitudes towards the speakers of language, they will desire more contact with them.
Other opinion from Robert Gardner and Wallace Lambert :
-          Integrative motivation to refer to language learning for personal growth and cultural enrichment.
-          Instrumental motivation for language learning for more immediate or practical goals.

4.      Personality

It is often argued that an extroverted person is well suited to language learning. However, research does not always support this conclusion. Although some studies have found that success in second language learning is correlated with extroversion such as assertiveness and adventurousness, others have found that many successful language learners do not get high scores on measures of extroversion.
Many researchers believe that personality will be shown to have an important influence on success in language learning.

5.      Aptitude

Learning is distinguishing feature of aptitude. There are two tests for aptitude that usually used by many people, MLAT and PLAB, both tests are based on the view that aptitude is composed of different types of abilities:
-          The ability to identify and memorize new sounds
-          The ability to understand the particular words in sentences
-          The ability to figure out grammatical rules from language
-          Memory for new words
One could determine learner’s profile of strengths and weaknesses and use this information to place students in appropriate teaching programs. Some evidence incated that matched students were able to attain significantly higher level of achievement than those who were unmatched.

6.      Learners Preferences

Visual learners usually cannot learn something until they have seen it. Aural learners, seem to need only to hear something once or twice before they know it. Kinasesthetic learners, there is a need to add a physical action to the learning process.
The result of a research is that while field independence is related to some degree to performance on certain kinds of tasks, it is not good predictor of performance on others.

7.      Learner Beliefs

Out there, so many beliefs in many learners that involves a learner in their process of learning. In particular, older learners have strong beliefs and opinions about how their instruction should be delivered. These beliefs are usually based on previous learning experiences and the assumption that a particular type of instruction is the best way for them to learn.
A research indicates that learner beliefs can be strong mediating factors in their experience in the classroom. Several students were convinced that their progress was negatively affected by an instructional approach which was not consistent with their beliefs about the best way for them to learn. This characteristic will influence the kinds of strategies they choose in order to learn new material.

Good Learners in SLA Muriel

Characteristic of Good Learners ( Muriel Saville )

Muriel Saville

1.     Age

In this Age characteristic, younger learner is not better than an older learner.

Age differences in SLA

Younger advantage 
  1. Brain Plasticity
  2. Not analytical
  3. Fewer inhibitions (usually)
  4. Weaker group identity
  5. Simplified input more likely
      Older advantage
  1. Learning Capacity
  2. Analytic ability
  3. Pragmatic skills
  4. Greater knowledge of L1
  5. Real-world knowledge 
Based on that table we know that there is no better one from both of them. But we could understand that younger learner has more time than older learner to acquire the second language and when the younger learner has the advantage like an older learner, he has had more ability than older learner. So, I think learners that start to learn.

2.     Cognitive Style

Cognitive Style refers to individuals preferred way of processing. Its role in explaining why someone could not be successful in learning L2, by observes some styles. 
Field-dependent (FD) ; introvert
  1. Global
  2. Holistic
  3. Deductive
  4. Focus on meaning 
Field-independent (FI) ; extrovert
  1. Particular
  2. Analytic
  3. Inductive
  4. Focus on form 
 
In a test (find a simple shape within a more complex design), Individuals who have difficulty discerning a figure apart from the ground (or field) within which it is embedded are judged to be relatively FD; individuals who have no difficulty with this test are judged FI.
Individuals who are FD are also considered more global and holistic in processing new information; individuals who are FI are considered more particularistic and analytic.
Deductive processing begins with a prediction or rule and then applies it to interpret particular instances input. Inductive processing begins with examining input to discover some pattern and then formulates a generalization or rule that accounts for it and that may then in turn be applied deductively.
In a study, a cognitive style whereby subjects are able to focus on form perhaps better than meaning (but certainly in conjunction with meaning).
FD learners are thought to achieve more success in L2 acquisition via highly contextualized interactive  communicative experiences because that fits better with their holistic “cognitive style” and FI learners to profit more from decontextualized analytic approaches and formal instruction.

3.      Motivation

Integrative:
Based on interest in learning L2 because of desire, such as:
-          Desire to attain the goal
-          Intention to integrate in a community
-          Emotional or affective factors
Instrumental:
Involves perception of purely practical value in learning the L2, such as:
-          Increasing occupational
-          Enhancing prestige and power
-          Accessing scientific and technical information
-          Passing course in school

4.     Personality

Personality factors are sometimes added to cognitive style in characterizing more general learning style.
Personality traits
The First Type
  1. Anxious
  2. Risk-avoiding
  3. Shy
  4. Introverted
  5. Inner-directed
  6. Reflective
  7. Imaginative*
  8. Creative
  9. Empathetic*
  10. Tolerant of ambiguity*
* indicates positive correlation with success in L2 learning

 The Second Type
  1. Self confident*
  2. Risk-taking*
  3. Adventuresome*
  4. Extroverted
  5. Other-directed
  6. Impulsive
  7. Uninquisitive
  8. Uncreative
  9. Insensitive to others
  10. Closure-oriented
* indicates positive correlation with success in L2 learning

 Introverts generally do better in school and extroverts talk more. Some researchers have hypothesized that extroverts would be more successful language learners.

5.     Aptitude

Phonemic coding is the capacity to process auditory input into segments which can be stored and retrieved. It is particularly important at very early stages learning when the ability of the hearer cannot analyze the incoming stream if speech into phonemes in order to recognizes morphemes. Input may not result in intake.
Inductive language learning ability and grammatical sensitivity account for further processing of the segmented auditory input by the brain to infer structure, identify patterns, make generalizations, recognize the grammatical function of elements and formulate rules.
Associative memory capacity is importantly concerned with how linguistic items are stored and with how they are recalled and used in output. Associative memory capacity determines appropriate selection from among L2 elements that are stored and ultimately determines speaker fluency.

6.         Learning Strategies

Learning strategies is the behaviors and techniques they adopt in their efforts to learn a second language. Not all strategies are equal, some more inherently more effective than others and some more appropriate in particular contexts of learning styles.
Metacognitive strategies are those which attempt to regulate language learning by planning a monitoring. E.g. previewing a concept in anticipation of a learning activity.
Cognitive strategies make use of direct analysis or synthesis of linguistic material. E.g. repeating after a language model.
Social/affective strategies involve interaction with others. E.g. seeking opportunities to interact with native speakers.

7.         Sex

  1. there is belief female tend to be better L2 learner than male
  2. Female outperform men in verbal fluency
  3. Female may be less asymmetrically organized than male, but male better at computing compositional rules than female
  4. Female better at memorizing complex form than male
  5. During menstruation, female has higher level at articulatory and motor ability have been associated

Ujian Nasional Indonesia


Seperti yang kita ketahui saat ini, UN (Ujian Akhir Nasional) merupakan salah satu usaha pemerintah untuk meningkatkan taraf pendidikan bangsa. Hanya UN yang menjadi standar kelulusan, menjadi penentu lulus tidaknya seorang murid SD, SMP maupun SMA dan sederajatnya. Sistem kelulusan siswa adalah dengan pembagian hasil UN 60 persen ditambah ujian akhir sekolah (UAS) 40 persen. Jadi Nilai Akhir = 60 persen UN + 40 persen UAS. Tetapi apakah benar UN dapat berjalan sesuai tujuan?
Sering sekali dibertitakan pada saat-saat sebelum berlangsungnya UN bahwa pemerintah sangat ketat dalam menjaga keamanan soal UN agar tidak bocor. Terdapat tim yang dibentuk pemerintah yang sudah diterjunkan untuk mendatangi percetakan yang mengurusi soal UN ini. Tim memantau proses percetakan serta distribusi pengiriman ke seluruh wilayah di Indonesia. Tidak hanya itu, tim juga mendatangi gudang-gudang penyimpanan soal. Tim meninjau proses pengamanan soal-soal itu. Termasuk soal pengepakan, apakah soal mengalami kerusakan atau tidak. Bahkan, Irjen Kemendikbud Haryono Umar pernah menjamin seluruh proses yang ada, hingga proses pengumuman, tidak akan luput dari pemantauan pihaknya. Ujian nasional untuk tingkat SMA/SMK digelar serentak. Begitu juga di Bali, antisipasi kebocoran naskah UN di Bali dijaga tentara. Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat Prof. Wahyudin Zarkasyi pun mengaku tidak khawatir meski soal menginap lebih lama di daerah. Sebab menurut dia, seluruh petugas, pengawas, dan panitia pelaksana UN memiliki integritas yang tinggi. Di Kaltim, lembar soal dan jawaban ditempatkan di ruang khusus yang terkunci dengan tiga gembok. Kunci gembok masing-masing dipegang personil polisi yang bertugas, Pengawas dari Unmul dan Kepala Sekolah.
Kunci Jawaban menyebar cepat lewat pesan singkat
Sangat ketat sekali memang semua usaha penjagaan oleh pemerintah, polisi dan tentara. Seperti tidak ada satupun celah bagi semua orang yang hendak bertindak curang, mengambil untung dari hal terlarang. Dapat dilihat mulai dari percetakan sampai pada pendistribusian lalu menginapnya naskah soal UN di masing-masing daerah semua telah terjaga sangat rapi dan ketat. Namun, benar-benar sangat disayangkan mengapa setelah UN berlangsung hampir semua berita di televisi, koran dan sebagainya berbalik 180 derajat dari berita sebelumnya. Setelah sebelumnya, diberitakan betapa ketatnya penjagaan dan pengamanan kebocoran naskah soal UN, beritapun berganti dengan murid-murid yang tertangkap kamera sedang berbuat curang dengan berbagai cara. Cara-cara yang paling populer dilakukan murid adalah mengoperasikan handphone, membawa kunci jawaban yang nyaris lengkap mulai nomer awal sampai nomer terakhir dan saling beri jawaban antar murid. Sebenarnya semua hal itu adalah perbuatan yang benar-benar dilarang, sebenarnya handphone diwajibkan untuk tidak dimasukkan dalam ruang ujian, mengobrol juga tidak boleh yang padahal terdapat 2 pengawas ujian dalam setiap ruangan.
Dari tiga kasus yang paling sering ditemui tersebut yang paling sangat patut dipertanyakan adalah darimana murid mendapatkan kunci jawaban berbentuk sebuah kertas kecil ataupun pesan di handphone, padahal naskah soal UN sudah dijaga sedemikian ketat. Bukan hanya itu saja, hal yang juga sangat disayangkan adalah kepercayaan diri sebagian besar murid di Indonesia yang benar-benar tidak ada dengan kemampuan yang dia miliki. Padahal sistem UN sendiri sudah sangat membuka jalan yang lebar bagi murid untuk lulus sekolah dengan sistem, Nilai Akhir = 60 persen UN + 40 persen UAS.
Pembicaraan saya dengan beberapa teman dari berbagai daerah di Indonesia ketika saya sedang belajar Bahasa Inggris di Pare, Kediri pun juga membuktikan bahwa setelah saya menanyakan kepada anak Bekasi yang baru saja lulus SMP apakah kamu mendapatkan bocoran jawaban, dia hanya tersenyum dan menjawab “ya iyalah... pasti...”. Itu hanya satu dari beberapa anak yang saya tanyakan, belum banyak lagi yang lain.
Saya lulus SMA pada tahun 2011, masih teringat betul di memori saya kejadian-kejadian yang sebenarnya kurang berkenan di hati saya tentang berlangsungnya, diantaranya:
·         Harga kunci jawaban UN sangatlah murah dibandingkan dengan biaya sekolah di sekolah yang tidak favorit sama sekali. Bahkan, sempat diberitakan berbagai harga kunci jawaban yang bervarisasi, hanya dengan Rp 70.000, Rp 50.000 dan hanya Rp 10.000, karena sebagian besar pembayarannya dilakukan dengan iuran untuk membeli kunci jawaban. Benar-benar murah bahkan untuk seorang pengangguran.
·         Di samping itu didukung oleh kemajuan teknologi informasi lewat handphone dan internet. Sangat cepat menyebar semua kunci jawaban dari semua kode naskah soal A-E.
·         Pada setiap pagi hari, sebelum murid memasuki lingkungan sekolah biasanya penjual kunci jawaban akan bertemu dengan beberapa murid saja di tempat yang telah disepakati. Sebelum ujian, murid dipersilahkan untuk ke kamar kecila agar tidak ada lagi yang meninggalkan ruang ujian sebelum ujian usai, yang memang dilarang. Di saat itulah saat yang paling mudah bagi murid-murid untuk menyalin semua jawaban soal yang akan mereka terima pada selembar kertas kecil. Murid yang dirasa pintar dalam mata pelajaran yang akan berlangsung akan menjadi penanda bahwa kunci itu benar atau tidak. Jadi, setelah anak itu mengerjakan semua soal dia akan memberi tanda bahwa jawaban yang telah mereka salin itu benar dan yang lain akan memulai mengisi jawaban.
·         Beberapa murid yang sebernarnya tidak terlalu pintar dalam salah satu mata pelajaran pun mendapatkan nilai yang nyaris tidak dapat dipercaya kalau dilihat dari nilai-nilai sekolah sebelumnya dan kondisi mereka saat dikelas.
·         Sistem Nilai Akhir = 60 persen UN + 40 persen UAS ini benar-benar dimanfaatkan oleh sebagian besar sekolah di Indonesia. Semua mata pelajaran yang masuk di UN dijadikan minimal 8,0 dengan memberikan tugas-tugas yang cukup mudah untuk dikerjakan. Dengan nilai rapot 8,0 ini sebenarnya murid tidak perlu bersusah payah kalau hanya untuk lulus, nilai UN 3,0 pun sebenarnya bukan menjadi masalah yang besar. Disinilah terlihat jelas bahwa sebagian murid tak memiliki kepercayaan diri sama sekali dengan tetap membeli kunci jawaban.
Kunci Jawaban yang sudah dicatat sebelum memasuki ruang ujian
·         Ada sebuah informasi dari seorang karyawan di SMA saya bahwa rapot yang telah dikirim ke Diknas masih bisa diganti lagi nilai. Dan itu dapat mengubah hasil akhir.
Memang tidak salah orang didalam sekolah ingin memberikan yang murid inginkan tetapi apakah benar itu yang terbaik demi murid. Tapi tentu masih tetap patut untuk dipertanyakan kebenaran sekolah yang memberikan nilai minimal 8,0 dengan harapan menjadikan murid sebagai SDM berkualitas Indonesia.
Sangat disayangkan memang fenomena ini, disaat banyak orang-orang yang sudah dengan hati yang besar dan jujur membantu agar UN berjalan dengan seharusnya. Tetapi, hanya dengan beberapa pihak yang ingin mendapatkan keinginan dengan cara tak halal pun terjadilah kebocoran kunci jawaban UN ini. Dan yang pasti orang yang mendalangi bocornya kunci jawaban adalah bukan orang sembarangan melainkan orang yang berpangkat tinggi kalau dilihat dari tidak pernah ditemukannya dalang semua ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa di jaman teknologi informasi yang maju ini hanya dengan satu tempat saja yang bocor misalkan, di Merauke Papua bocor bukan tidak mungkin orang yang di Sabang mendapatkan kunci jawaban yang berasal dari Merauke. Hanya dengan satu pesan di handphone berisikan kunci jawaban lengkap akan dapat menjadi lumbung bisnis haram yang memang sangat menggiurkan.
Mohon maaf sebelumnya atas uneg-uneg saya
MAJULAH INDONESIA

Learning English Using Podcasts

How can you use a podcast?

The content of many podcasts is based around a short dialogue, which is repeated for you to be able to listen a second or even third time. Here are some more specific ideas:
• If you’re about to go abroad on vacation, listen to the appropriate chapters of the podcast  the day or week before, and learn some of the phrases you’ll need for different situations.
• For higher level students, try to find a podcast about a museum or location you will visit on your travels. Listening to commentaries about that place in the target language is useful and interesting.
• For fluency practice - mimic the voices on the podcast to improve your fluency.
• For specific new language focus - listen to a dialogue and use a dictionary to learn new words that aren’t in the podcast glossary.
• For pronunciation practice - listening and repeating key words and sounds on the podcast to improve accent and pronunciation, as the voices used are authentic speakers of the language.
• For examples of how to describe different lexical items - because of the detailed vocabulary list on the podcast the listener can follow how to give explanations and how to describe items.
• To practice reading aloud - using the PDF versions of the podcast.
• If you are having specific difficulty understanding the audio, you can read and listen at the same time, going through the dialogue a few times until you are more certain of the content. Then you can practise without the written support, developing your ‘ear’ for the language.

Benefit using podcast:

First is Listen to Native Speakers

·         Getting yourself used to listening to native speakers will make it easier to understand the language.
·         Will also help your pronunciation
·         Making your English sounds more natural and understandable by native speakers.

And next is You Already Have the Tools

·         You don’t really need anything else to start using podcasts to improve your English.
·         We can use Cellphone, ipod, mp3 player or mp4 player

And next is Everywhere, Anytime

With podcasts, you can decide when and where you learn English. While you’re enjoying that cup of coffee in a cafe, eating lunch, jogging, doing exercise at the gym or while being stuck in traffic jam, day or night, improving your English is just a button click away. What you need is just to make some time (10 minutes up to one hour, whatever works for you) and hit play.

And the last is Lots of Free Resources

Don’t limit yourself with only listening to American speakers, vary it with British or perhaps Australian accents. The Internet makes it easy to find podcasts with various English accents. Here is just a small collections of such resources. You can get more by searching for “learning english podcast”. You can also listen to news podcast by searching “english news podcast”.

Episode co-evolusi bio-kultural

Kehidupan manusia merupakan suatu episode co-evolusi bio-kultural

Manusia adalah satu-satunya makhluk Tuhan dimuka bumi yang merupakan bagian dari sistem yang sama, yang mempunyai perkembangan yang lambat antara bio dan kultur yang hidup dalam suatu budaya. Episode adalah bagian suatu kisah yang memiliki ciri-ciri tertentu dengan perkembangan lambat antara budaya dan organik fisik. Co berarti bersama-sama, evolusi merupakan perkembangan yang lambat. Bio berarti sifat hayati (zat hidup), kultur berarti budaya.

Prof. Dr .T. Jacob, seorang guru besar Universitas Gajahmada berasal dari Aceh menyatakan bahwa kehidupan manusia laksana perkembangan yang lambat bersama-s`ma antara organik dengan hal-hal tentang budaya. 

kehidupan manusia laksana suatu bagian yang memiliki ciri-ciri khusus pertumbuhan bersama secara lamban antara organik fisik manusia dan budaya dalam suatu episode



Marshall Herkovits
M.J. Herkovits mengemukakan bahwa perkembangan organik manusia tidak sama cepatnya dengan perkembangan budaya. Sedangkan beberapa sarjana lain mengemukakan bahwa pertumbuh perkembangan organik manusia tidak sama cepatnya dengan perkembangan super organik manusia (perkembangan budaya). Menurut M.J. Herkovits ada dua hal yang penting dalam hidup:
-          Organik           : Zat yang hidup dalam diri manusia
-          Super organic  : Diluar yang hidup
Kedua organik dan super organik sama-sama tumbuh namun kecepatannya tidak sama.

M.J. Herkovits mengambil contoh revolusi di Inggris dan Revolusi Prancis. Revolusi merupakan suatu perubahan yang mendasar, merombak yang lama dengan yang baru dan perombakan itu terjadi tidak terlalu lama.

Revolusi Inggris merupakan Revolusi Industri (karena yang bekembang cepat adalah Industri). Rakyat Inggris bersama para pakar bersatu untuk mengadakan revolusi dan membangun tatanan yang baru. UU Inggris : Magna Charta 1215 mengusulkan adanya parlemen (badan yang mewakili rakyat). Hasil dari revolusi Inggris : Inggris tidak lagi absolut monarchi namun kerajaan parlemen.

Revolusi Prancis, Rakyat dibantu oleh para pakar dan pemilik modal bersama melakukan revolusi. Hasil revolusi : Prancis tidak lagi absolut namun republik. Moto dari republik Prancis : Liberty (kejayaan), Equality (Kebersamaan), Fraternity (Persaudaraan).

Kedua revolusi diatas merupakan sejarah revolusi atau super organik yang pernah terjadi dulu, kedua revolusi tersebut membuat masing-masing negara dapat berkembang dengan jauh lebih cepat untuk menuju lebih baik dan sempat meninggalan perkembangan negara-negara lain di dunia.