Translate

Saturday, July 14, 2012

Tradisi Lisan Jawa


Ciri-Ciri Tradisi Lisan Jawa

Tradisi lisan merupakan bagian dari kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan sebagai milik bersama. Aneka tradisi lisan Jawa pun muncul tak sekedar pengisi waktu senggang, melainkan sebagai penyulur sikap dan pandangan, refleksi angan-angan kelompok, alat pengesahan aturan sosial, dan sebagainya. Tradisi lisan merupakan wujud gagasan kolektif sebagai khasanah budaya Jawa. Tegasnya, tradisi lisan Jawa merupakan bentuk pancaran pemikiran orang Jawa yang diwariskan oleh leluhur.
Tradisi lisan adalah sebuah wadah budaya lisan yang mampu menampung segala aspek warisan kolektif. Tradisi lisan dapat ditinjau dari dua aspek, yaitu aspek proses dan produk. Sebagai produk, tradisi lisan merupakan pesan lisan yang didasarkan pada pesan lisan generasi sebelumnya. Tradisi lisan sebagai proses, berupa pewarisan pesan melalui mulut ke multu sepanjang waktu hingga hilangnya pesan itu.
Pesan tradisi lisan memang sangat beragam. Dari sini muncul sekurang-kurangnya tiga hal, yang berhubungan dengan ciri tradisi lisan, yaitu :
1.      Tak reliable, artinya tradisi lisan itu cendenrung berubah-ubah, tak ajeg, dan rentan perubahan.
2.      Berisi kebenaran terbatas, tradisi lisan hanya memuatkebenaran intern, dan tidak harus bersifat universal.
3.      Memuat aspek-aspek historis masa lalu.
Dengan kata lain, tradisi lisan akan terjadi apabila ada kesaksian seseorang secara lisan terhadap peristiwa. Kesaksian itu diteruskan orang lain secara lisan pula, sehingga menyebar kemana saja. Keterulangan kesaksian peristiwa inilah yang menciptakan sebuah tradisi lisan. Cakupan tradisi lisan antara lain meliputi : rumus-rumus, puisi, daftar kata, cerita, dan komentar.
Punokawan

2.2  Hubungan Antara Tradisi Lisan dan Tradisi Tulis

Asumsi yang menyatakan tradisi lisan lebih tua dibanding tradisi tulis sepertinya tidak keliru. Tradisi lisan Jawa merupakan aktualisasi budaya asli, sebelum orang Jawa kenal tulisan. Perwujudan tradisi lisan amat beragam, ada yang berupa interaksi lisan, karya-karya estetis lisan, pedoman hidup lisan, dan lain-lain. Namun yang paling penting adalah tradisi lisan memerlukan publik atau penikmat yang terlibat.
      Beberapa perbedaan prinsip pada tradisi lisan Jawa dan tradisi tulis Jawa antara lain :
·         Tradisi lisan memerlukan audien agar mendengarkan sehingga ada kontak psikologis dan terjadi hubungan antara pencipta dan pendengar dalam satu ruang dan waktu yang kurang lebih sama. Berbeda dengan tradisi tulis yang hubungan antara pencipta dan pendengar tidak harus seruang dan sewaktu.
·         Tradisi lisan keberadaanya amat tentative, sejauh orang dapat mengingat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tradisi lisan cenderung gampang punah dibanding tradisi tulis.
·         Jarang dilakukan penghargaan tertentu kepada pencipta tradisi lisan karena tak jelas siapa penciptanya. Sedangkan tradisi tulis yang memiliki bukti konkret sering mendapat penghargaan yang memadai.
·         Tradisi lisan cenderung bisa mendukung bidang lain, terutama kearah performance art atau poetry reading/prose reading. Hal ini memungkinkan tradisi lisan bisa menyumbangkan perannya dalam bidang-bidang strategis, seperti pariwisata. Sedangkan tradisi tulis sebagian besar hanya dinikmati untuk dibaca dan diteliti keindahannya.
·         Pengkajian tradisi lisan jauh lebih lama di lapangan, disbanding tradisi tulis yang bisa diakses dari waktu ke waktu. Dokumentasi tradisi lisan masih amat jarang dibanding tradisi tulis. Tradisi lisan Jawa, sebagian besar masih tersebar di berbagai wilayah, sedangkan tradisi tulis relatif telah terdokumentasi di beberapa perpustakaan.
Atas dasar perbedaan di atas menjadikan perhatian orang terhadap tradisi lisan lebih kecil dibanding tradisi tulis. Karena, ada anggapan bahwa waktu dan biaya pengkajian tradisi lisan jauh lebih banyak dibanding mempelajari tradisi tulis.

2.3  Ragam Pokok Tradisi Lisan Jawa

1.      Genre Tradisi Lisan Jawa

Genre tradisi lisan pada dasarnya tak jauh berbeda dengan tradisi lisan Jawa tulis. Kategori besar genre tradisi lisan Jaw adapt digolongkan dalm tiga, yaitu:
a.      Cerita, yaitu tradisi lisan yang berupa kisahan beebentuk prosa. Wujud cerita lisan antara lain :
·         Cerita biasa, yang memuat kisah-kisah hidup
·         Kisah anekdot yang memuat cerita lucu dan menarik
·         Cerita perjalanan, berupa kisah oleh-oleh dari wilayah yang lain yang dipandang menarik
·         Mitos, adalah cerita yang memuat kepercayaan orang Jawa terhadap hal-hal yang sacral
·         Cerita rakyat, adalah cerita yang bernuansa peristiwa suatu wilayah, misalkan berbentuk legenda
·         Cerita epik, adalah kisah kepahlawanan atau hero yang menonjol di Jawa
·         Cerita babad, adalah kisah yang memuat aspek sejarah fiktif
·         Cerita lelembut, adalah kisah kehidupan makhluk halus
·         dongeng
b.      Puisi, adalah tradisi lisan yang berupa syair-syair rakyat. Syair ini meliputi beberapa bentuk, antara lain :
·         Nyanyian rakyat, adalah puisi yang dilagukan rakyat seperti halnya lagu dolanan anak-anak
·         Parikan (pantun Jawa), sebuah sajak semi terikat
·         Tembang, adalah puisi yang terikat oleh aneka aturan, seperti tembang gedhe dan macapat
c.       Ungkapan estetis, adalah cetusan atau gagasan yang mengungkapkan kata-kata indah, ini dapat berupa :
-          Mutiara kata
-          Peribahasa
-          Isbat
-          Ramalan
d.      Teka-teki kata, adalah pemakaian teka-teki yang dapat menyedot perhatian orang, berupa :
·         Wangsalan
·         Sandi asma
·         Sengkalan
·         Cangkriman puistis
e.      Pertunjukkan rakyat, adalah bentuk-bentuk lakon dan pertunjukkan rakyat, meliputi :
·         Drama (guyon maton, lawak, dagelan)
·         Wayang
·         Ketoprak
·         Jemblung
·         Sholawatan
·         Dan sebagainya

2.      Geografi Tradisi Lisan

Sejak lama tradisi lisan Jawa telah menyedot perhatian orang. Karena, tradisi lisan dipandang memiliki keunikan. Dilihat dari aspek bentuk maupun kandungan makna, tradisi lisan sering berbeda dengan tradisi tulis.
Kekayaan tanah Jawa atas tradisi lisan, membuat orang Jawa semakin tebal keyakinannya terhadap karya tersebut. Akibatnya di berbagai wilayah tertentu, ada tradisi lisan yang dianggap skaral sehingga sulit dijankau oleh pemerhati. Setiap wilayah di Jawa in tampaknya memiliki keragaman tradisi yang berbeda satu sama lain.
Diantara tradisi Jawa yang telah populer di beberapa wialayah Jawa Timur berupa sastra lisan, diantaranya :
1.      Ponorogo, memiliki cerita Dumadine Tlaga Nglebel, Rumput Kalanjana.
2.      Ngawi, memiliki cerita Jaran Momotan, Jaka Bin-Dheng
3.      Pacitan, memiliki cerita Mula Bukane Desa Sampung, Mula Bukane Watu Kaji Slewa.
4.      Blitar, memiliki cerita Dongeng Wong Sugih Entut.

No comments:

Post a Comment